Sunday, January 27, 2008

Colenak…duh Colenak…


Suatu petang di awal 2007, saya dan rekan kerja saya bersiap untuk berangkat ke Puncak, tepatnya tujuan kami adalah Hotel Yasmin. Kami sedang mempersiapkan untuk suatu kegiatan konferensi nasional internal perusahaan kami. Setelah diskusi sejenak dimana kami harus makan malam, kami memutuskan untuk makan malam di sekitar Cisarua, selain terlalu malam kalau menunggu sampai di Hotel Yasmin, cacing-cacing di perut kami telah berontak menunggu jatah. Saya mengusulkan untuk mencoba satu restoran referensi dari rekan kerja yang lain, yaitu Balé Cipayung.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami bergegas masuk ke lokasi restoran yang ternyata asri dengan beberapa saung di atas dikelilingi kolam buatan, suasana yang sangat mendukung untuk menikmati makan malam. Kami memesan beberapa makanan yang katanya merupakan menu spesial dan favorit di tempat tersebut. Salah satu menu yang direkomendasikan adalah Colenak, wah apa itu yah ? coba aja deh….. buat appetizer.

Colenak telah disajikan dengan tampilan yang menarik dan keliatannya enak dengan top up vla santan. Kami segera mengambil garpu dan mencicipinya, saya memotong sedikit Colenak yang ada dan mencicipinya karena rasa ingin tahu – apakah Colenak ini ? Saya rasakan ternyata tape … wah enak juga neh… kemudian saya bicara dengan rekan kerja saya enak juga yah tape dibuat kaya gini. Teman saya, Bapak Herly, mengerenyitkan dahi dan bilang ”ini bukan tape pak, tapi pisang !”. Saya, karena yakin bisa membedakan rasa tape dan pisang, ngotot bahwa bahan yang dipakai bukan tape tetapi pisang, seraya mengambil potongan kecil lagi untuk meyakinkan. Dan kami masing-masing tetap yakin dengan kemampuan merasa kami masing masing. Jadi saya tetap ngotot itu tape dan Bapak Herly yakin itu pisang. Yah udah tidak kami bahas lagi, dan saling ngotot membuat kami makin lapar dan menu utama sudah dihidangkan, kami tinggalkan Colenak yang ada untuk menyantap menu utama.

Ah, kenyang sudah dan nikmat juga menu-menu yang dihidangkan, dan karena mubazir kalau Colenak yang jadi bahan ngotot itu tersisa, saya ajak Bapak Herly untuk menghabiskannya. Entah bagaimana, saat kami mengambil potongan Colenak, kami baru sadar, karena ternyata kali ini saya merasakan pisang dan Bapak Herly merasakan tape....
Wakzzzzzz.... setelah kami perhatikan lebih jeli ternyata memang di bawah vla santan tersebut ada dua buah potongan besar dimana satunya adalah pisang dan satunya adalah tape..... Akhirnya kami sama-sama tersenyum kecut... menyadari kengototan kami masing-masing. Colenakkk.... duh Colenakk.... dicocol enak walau buat kami ngotot dan akirnya ketawa bersama.

Seringkali dalam hidup, baik dalam keluarga, dalam persahabatan maupun dalam dunia kerja di perusahaan tempat kita bekerja, kita saling beradu argumentasi, mempertahankan sikap masing-masing dengan fakta-fakta dan pengalaman yang kita punya. Sebagai orang tua kita merasa punya pengalaman yang lebih terhadap suatu keadaan sehingga sering berselisih paham dengan anak maupun pasangan hidup, Sebagai atasan seringkali kita merasa lebih tahu akan suatu keadaan dan berselisih dengan rekan kerja lain baik bawahan ataupun juga dengan kolega kerja yang selevel. Memahami dengan melihat pengalaman orang lain sebagai informasi / fakta tambahan ternyata sangat berarti. Kalau saja kami mau menunda penilaian dan mencoba berbagi tempat dan mencoba bagian lain mungkin kami tidak akan saling ngotot. Walaupun begitu pengalaman ini memberi moment of truth yang berarti buat saya.

Selamat berbagi dan siap berkolaborasi….

Colenak duh.... dicocol enak.....

Be yourself !
Be the best !!
Be a better of YOU !!!


Bambang Yapri
bambang-yapri@people-developer.com
Life Transformation Coach – Training & Development Specialist

Sunday, October 7, 2007

Siapa yang Mau Masuk Surga ?


Di sebuah kelas taman kanak-kanak, seorang guru Agama memulai kelasnya dengan menanyakan satu pertanyaan kepada anak-anak yang ada di kelasnya. “ Anak-anak siapa yang mau masuk Surga, angkat tangan !” kata Ibu guru, beberapa tangan mengacung dan diikuti oleh tangan-tangan mungil yang lain. Ternyata ada seorang anak yang duduk di depan tetap tidak mengacungkan tangannya. Ibu guru ini terheran-heran dan kemudian bertanya “Leny, kenapa kamu tidak angkat tangan ? Leny nggak mau masuk surga ?”. Dengan polosnya Leny menjawab “ Leny mau masuk surga bu tapi tidak sekarang, kan kalau mau masuk surga harus mati dulu…Leny kan masih punya banyak mainan di rumah, setiap hari Minggu juga diajak papa mama jalan-jalan.Gitu lho Bu guru…”

Jawaban polos tersebut ternyata sarat makna. Seringkali ditanya siapa yang mau SUKSES ? pasti ada beberapa orang yang dengan sigap angkat tangan, ada pula beberapa orang yang lain angkat tangan hanya karena melihat yang lain angkat tangan, tetapi ada beberapa orang yang belum mau SUKSES karena masih merasa nyaman dengan semua yang telah dipunyai. Sukses sendiri bukanlah ukuran dari hasil akhir yang dicapai, sukses akan lebih dirasakan ketika Anda dapat memaknai proses mencapai tujuan Anda. SUKSES dapat dicapai dengan merelakan beberapa hal yang telah menjadi kebiasaan Anda sekarang, dan mengusahakan untuk hal-hal baru yang harus dibiasakan. Semua itu bisa dimulai dengan mengubah mindset kita. Success is a mindset begitu hal yang selalu diigaungkan oleh Jennie S. Bev. Mau tahu apa Rahasia Sukses Terbesar versi Jennie S. Bev, Anda semua bisa membeli bukunya dengan judul Rahasia Sukses Terbesar.

Apa Rahasia Sukses Terbesar Anda ?

Be yourself !
Be the best !!
Be a better of YOU !!!

Bambang Yapri
bambang-yapri@people-developer.com
Life Transformation Coach – Training & Development Specialist

Get The Right Remote Control for Your Life

Suatu kebiasaan kalau harus bangun pagi terutama buat semua yang harus menunaikan tugas dan tanggung jawabnya, baik menempuh pendidikan juga bekerja dan memulai berkarya. Tadi pagi, Saya juga harus bangun pagi, melaksanakan semua ritual pagi, dan tergesa untuk segera berangkat kerja. Saat sudah mau berangkat kerja dan akan keluar dari kamar, teringat pendingin ruangan masih menyala, segera saya menyambar remote control dan berusaha mematikan pendingin ruangan. Entah kenapa setelah dicoba beberapa kali ternyata tidak bisa, kemudian saya coba mendekatkan remote control ke pendingin ruangan dan menekan tombol yang ada, ternyata masih belum bisa juga.
Sempat saya gusar, sudah tergesa untuk berangkat, tetapi pendingin ruangan belum bisa dimatikan. Akhirnya saya baru tersadar, saat melihat kembali ke remote control yang ada ternyata saya salah mengambil remote control. Dengan tersenyum kecut, saya mengambil remote control yang benar dan segera mematikan pendingin ruangan dan berangkat kerja.

Seringkali dalam mencapai suatu target atau tujuan yang telah ditetapkan, kita telah bekerja keras, telah mencurahkan segala keringat untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Walaupun begitu, kita belum saja mencapai apa yang telah kita tetapkan. Kalau ini pernah atau malah sedang terjadi dalam hidup Anda sekarang, berhenti sejenak dan lihat kembali apa saja yang telah Anda upayakan. Mungkin saja Anda perlu mengubah cara anda mencapai tujuan Anda.
Sebelum memulai kembali berkarya, tetapkan dulu tujuan Anda, cari cara kerja yang paling efektif untuk mencapai tujuan Anda, evaluasi proses yang telah Anda lakukan, lakukan penyesuaian bahkan mengubah cara Anda bila perlu

Bisa juga ternyata selama ini Anda menggunakan remote control yang salah.
Cari remote control yang benar kemudian mulailah kembali berkarya.

Be yourself !
Be the best !!
Be a better of YOU !!!

Bambang Yapri
bambang-yapri@people-developer.com
Life Transformation Coach – Training & Development Specialist